Apa itu Shofa dan Marwah

Shofa dan Marwah merupakan nama dari bukit kecil yang terletak dekat Ka’bah, berjarak sekitar 450 meter antar bukit. Posisi mereka berada 130 meter arah tenggara dari Ka’bah untuk Shofa, dan Marwah 300 meter kearah timur laut dari Ka’bah.

Dalam Umrah sendiri, Bukit Shofa dan Marwah digunakan untuk melaksanakan Sa’i, aktivitas berjalan dari Shofa lalu menuju Marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali. Dimana ketika melintasi Bathnul Waadi ( diantara Shofa dan Marwah ) para jamaah pria disunahkan untuk berlari – lari kecil dan jamaah wanita disunahkan untuk berjalan cepat.

Kali ini kita akan membahas bagaimana Shofa dan Marwah bisa dijadikan tempat melaksanakan Sa’i. Dan juga kondisi Shofa dan Marwah saat ini.

Kisah Siti Hajar Dan Bukit Shofa dan Marwah

Siti Hajar dan Nabi Ibrahim

Siti Hajar awalnya merupakan budak yang membantu Sarah, istri dari Nabi Ibrahim yang bertempat tinggal di Palestina.

Seiring berjalannya waktu, Sarah belum juga memiliki anak sementara itu ia semakin menua. Sarah, terutama Nabi Ibrahim tak hentinya terus berdoa meminta Allah SWT agar ia dikaruniai seorang anak. Mendengar doa suaminya itu, Sarah meminta Nabi Ibrahim untuk menjadikan Hajar, budaknya istri kedua agar dapat memberikan Nabi Ibrahim seorang anak.

Setelah beberapa waktu semenjak Nabi Ibrahim menikahi Hajar, doanya terkabuli dan merekapun dikaruniai seorang anak, bernama Ismail.

Dibalik kebahagiaan antara Nabi Ibrahim dan Hajar ternyata menimbulkan kecemburuan dari Istri pertama Nabi Ibrahim, Sarah. Ia meminta agar dirinya dan Hajar menjauh, Sarah tidak ingin tinggal satu atap dengan Hajar.

Ditinggalnya Hajar dan Ismail di Mekkah

Setelah beberapa waktu, Nabi Ibrahim membawa istri keduanya, Hajar dan putra mereka Ismail yang masih bayi pergi ke tempat yang jauh. Mereka akhirnya tiba di Mekkah, yang pada saat itu Mekkah hanyalah lembah pasir yang berbukit dan tandus, tidak dihuni dan juga tidak adanya air. Saat itu mereka melihat adanya bukit berwarna merah, dengan bekas rumah tua terbuat dari kayu dengan kantong air penampung hujan. Disinilah Nabi Ibrahim pergi meninggalkan Istri dan putranya. Seperti yang diriwayatkan dua sejarawan terkenal, al Thabari (838-923 M) dan Ibnu al Atsir (1160-1233 M).

Merasa ditinggalkan oleh suaminya begitu saja, Hajar pun kebingungan dan bertanya kenapa ia ditinggalkan di tempat menyeramkan ini. Nabi Ibrahim tetap diam mendengar pertanyaan dari Hajar, lalu bertanya untuk yang terakhir kalinya.

” Apakah Allah yang memerintahkan kamu ? “

Nabi Ibrahim pun menjawab, ” iya “.

Mendengar bahwa itu perintah dari Allah, Hajar pun hanya bisa diam dan berdoa menyerahkan semua ini kepada Allah SWT.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Setelah meninggalkan anak dan istrinya pergi ia pun menghadap langit, mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘’ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. ’’ ( Ibrahim: 37 ).

Siti Hajar Bolak Balik di Bukit Shofa dan Marwah

Beberapa lama bertahan, Ismail pun mulai menangis karena kelaparan dan kehausan, Hajar pun juga kehausan serta air susunya pun sudah kering. Di saat itu Hajar merasa bingung, bagaimana caranya ia bisa menemukan air untuk Ismail dan juga dirinya.

Dalam kebingungannya ia berlari menuju bukit yang ia lihat, bukit itu ialah bukit Shofa. Hajar berharap setelah mencapai bukit tersebut ia dapat melihat sekitar lebih jelas, berharap menemukan seseorang yang sedang berkelana ataupun sesuatu yang dapat menghilangkan rasa kehausan mereka. Setelah sampai disana, ia tidak menemukan apapun, hanya lembah pasir yang kering dan tandus, tetapi ia menemukan bukit lain tidak jauh dari posisi saat ini.

Umroh berapa hari? Penasaran, Ini Jawaban Lengkap dengan Penjelasannya

Hajar pun menuju ke arah bukit tersebut yang sekarang disebut Marwah dengan harapan yang sama, namun mendapatkan hasil yang tidak berbeda dengan bukit sebelumnya. Tidak putus asa Hajar pun kembali ke bukit sebelumnya, kembali lagi terus sebanyak 7 kali.

Setelah 7 kali berjalan dari Shofa dan Marwah tanpa hasil, Hajar pun mulai kelelahan. Ia tergeletak disamping Ismail, berbaring putus asa dan pasrah memohon kembali kepada Allah SWT.

Asal Mula Air Zam-Zam

Pada momen tersebut Allah SWT mengutus Malaikat Jibril turun kesana, dengan sayapnya Jibril menyentuh tanah dan dari tanah tersebut, muncullah mata air mengalir dengan deras. Hajar yang mendengar seperti suara air mengalir itupun langsung melihat dan berlari ke arah sumber air melupakan rasa lelahnya. Segera ia berikan air tersebut untuk anaknya dan juga dirinya. Kemudian ia membuat semacam lubang ( sumur ) untuk menampung air tersebut sembari berkata ” Zumi, zumi ” atau berkumpullah. Disinilah asal mula air zamzam muncul, dan berkembangnya Mekkah dari lembah pasir tandus tanpa penduduk menjadi kota Mekkah yang kita kenal seperti sekarang ini.

Oleh sebab itu kedua bukit tersebut kini ditetapkan sebagai tempat sa’i, sesuai dengan firman Allah SWT yang turun dalam surat Al Baqarah

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
 

Artinya: ” Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau melaksanakan umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. ” (QS. al-Baqarah: 158).

Sejarah Air Zam-Zam dan Keistimewaannya

Bukit Shofa dan Marwah Saat Ini

Kegiatan Sa’i atau berjalan 7 kali dari Shofa ke Marwah. Sumber : Wikipedia

Semenjak pelaksanaan Umroh dulu hingga sekarang, terutama dalam menjalankan Sa’i. Terdapat beberapa renovasi yang dilakukan terhadap bukit Shofa dan Marwah untuk mempermudah dan meningkatkan kenyamanan saat melakukan Umroh. Salah satunya adalah pemasangan kipas angin dan juga AC sepanjang jalan dari Shofa ke Marwah.

Saat ini area aktivitas Sa’i sudah memasuki daerah perluasan dari Masjidil Haram, dimana terdapat 3 jalur. Pertama jalur jamaah Sa’i dari Shofa ke Marwah, jalur jamaah dari Marwah ke Shofa. Dan yang ketiga berada diantara keduanya sebagai jalur yang diperuntukkan khusus untuk jamaah lansia, pengguna kursi dorong atau disabilitas, dan orang sakit atau orang – orang yang lemah secara fisik.

Jalur khusus untuk Jamaah lansia dan disabilitas. Sumber : Wikipedia

Dan juga pada Bathnul Waadi terdapat deretan lampu hijau. Ini berguna untuk memudahkan jamaah kapan untuk berlari – lari kecil ( untuk pria ) dan jalan cepat ( untuk wanita ).

Di tengah pandemi ini jamaah haji melakukan Sa’i dengan mengikuti protokol kesehatan dan tertib.

Sai di bukit shafa dan marwah
Jalur khusus dengan protokol kesehatan di tengah pandemi